Music Player

Tuesday, June 6, 2017

[Review] THE MUMMY (2017): Tries To Give A Homage To The Original With A Whole Another Story


Bagaimana rasanya jika tiba-tiba ada mayat yang hidup kembali dan mengancam nyawa umat manusia? Inilah yang harus dihadapi oleh Tom Cruise dalam film “The Mummy”. Anda tidak salah baca, memang benar Tom Cruise yang menjadi peran utama. Bukan Brendan Frazier. Disutradai oleh Alex Kurtzman yang sebelumnya pernah menyutradarai film “People Like Us” tahun 2012 silam. “The Mummy” adalah seri pertama dari franchise Universal’s Dark Universe. Bahkan ada logo Dark Universe di awal film. Bercerita tentang Putri Ahmanet yang diperankan oleh Sofia Boutella yang berusaha balas dendam atas apa yang telah diperbuat kepadanya di masa lalu. Film yang berdurasi 1 jam 50 menit ini terasa menyenangkan, tapi disaat yang bersamaan juga bisa terasa menyebalkan. Adegan pembuka dari film ini sangat menjanjikan. Membuat penonton berasumsi “Wah, film ini pasti bakal bagus”. Tak terlewatkan pula aksi “boom boom bang” yang sangat menyenangkan. Di film ini, anda juga akan banyak menemukan “comedic moment” yang akan banyak dibawakan oleh Jake Johnson sebagai Chris Vail, teman dari Nick Morton yang diperankan oleh Tom Cruise. Mungkin karena “The Mummy” yang original punya comedic tone yang kuat, jadi “The Mummy” yang baru ini juga mengikuti formula yang sama. But somehow, it didn’t match the tone. Dari segala bentuk promosi, sampai tone filmnya sendiri begitu dark. Rasanya tidak cocok saja jika film yang gelap seperti ini ditambah bumbu komedi. Ditambah lagi Tom Cruise yang berusaha ngelawak tapi kesannya malah “krik” banget.


Di bulan Maret 2017 lalu, pernah rilis film “Power Rangers”. Sebuah reboot live action dari serial berjudul sama. Yang somehow, memakai formula film “The Breakfast Club” karya sutradara John Hughes tahun 1985. Mulai dari anak-anak yang punya social clique yang berbeda satu sama lain. Awalnya mereka tidak saling kenal, sampai akhirnya bisa menemukan satu kesamaan dan menjadi satu kekuatan yang padu. Nah, “The Mummy” juga mempunyai formula yang sangat mirip dengan film “Lifeforce”, karya sutradara Tobe Hooper yang juga rilis di tahun 1985. Mulai dari setup nya, cara si villain menangkap mangsa nya, motif si villain, dan ending yang hampir serupa. Wow, serasa jiplak ya? Mungkin bagi yang belum pernah menonton “Lifeforce” tidak akan sadar betapa signifikan kemiripan-kemiripan yang saya sebutkan diatas. Mungkin memang lagi zamannya untuk film-film membuat premis atau formula dari film-film zaman dahulu biar tidak kentara. Ya tapi jangan persis-persis amat dong, kerasa banget ngejiplak nya. Seperti meme berikut ini:


Salah satu faktor yang juga bikin kesal adalah, banyak adegan yang membutakan mata. Lagi adegan gelap-gelapan, tiba tiba flashback tapi terang nya gak nyelo. Seriously, this is annoying af. Silau bener. Gak kontras. Overall, The Mummy is a fun film. Bener-bener action-packed. Kalau kalian suka sama lawakannya, pasti bakal ketawa. Just enjoy the movie. But I couldn’t. Lulz.


No comments:

Post a Comment