Music Player

Thursday, March 23, 2017

[Review] DEAR NATHAN: Sebuah Adaptasi yang Sesuai Ekspektasi


Judul diatas berdasarkan honest opinion dari adek gue. Okay, how do I begin? Dear Nathan, sebuah cerita yang premis nya mainstream. Berasal dari cerita di aplikasi Wattpad, lalu diterbitkan menjadi novel. Jadi bestseller, dan sekarang jadi film. Ntap sekali mbak Erisca ini. Selamat ya mbak, dari Wattpad bisa jadi film. 


So basically it’s all about cewek lugu(oblok) dan cowok bandel. Cuih, banyak banget cerita model begini. Anyway, Salma adalah si Cewek Lugu. Lugu karena belum pernah pacaran, murid teladan, ikut osis, etc. Sedangkan si Nathan yang bandel nya bener bener, berantem melulu setiap hari, tipikal cowok nakal yang bakal lo temuin di sekolah lo sehari-hari. 


Amanda Rawles, diriku bingung memahami dirimu. Ceritanya lo murid yang lugu, but only in the first 10 minutes! Pas judul “Dear Nathan” muncul, BYAR ilang deh paras dirimu yang lugu itu. Gue gak bakal ngebandingin akting doi disini sama di film "Promise". Karena gua gak nonton film itu.


Meng-casting Jefri Nichol sebagai Nathan adalah langkah yang tepat. Meskipun misalkan Aliando yang jadi Nathan juga gak bakal jauh beda sih. Jefri Nichol, bagaimana ku mendeskripsikan dirimu? Okey lo badass (kaya si Aw Aw), setiap lu muncul penonton histeris (bukan berdasarkan kesaksian gue), lu juga bisa bikin penonton nangis. Tapi sorry, gue gak terpengaruh sama paras rupawan lu itu. You cried a lot, you made most of the audience cry a lot. But somehow, emosi lu tuh gak sampe ke gue. Mungkin karena cara penuturan adegan nya juga kali ya, semua subplot ditumpuk di second half. 


Yang menurut gua scene stealer disini: MBOK IJAH PEMBANTUNYA NATHAN! Muncul cuma sebentar, tapi permainan emosinya kuat. Seinget gue kayanya ada plot hole deh. What happened to Afifah? Only God knows. 


Dari segi cerita, okey. Teknis, okey. Beberapa shot yang diambil pake drone pun gak pecah. Tapi masalah yang masih kepikiran tuh, terlalu banyak konflik dan subplot. Diriku merasa keteteran. Untungnya akting Jefri dan Surya Saputra bagus, jadi bisa nutupin subplot yang kebanyakan itu.


Ada yang bilang bahwa film ini lebih bagus dari film “Galih & Ratna” yang juga bertemakan cinta di SMA. Walaupun jajaran cast di film ini lebih mirip anak SMA beneran, but sorry, G&R are way better than this. And I won’t tell you why, just prove it for yourself. Kalo penasaran bisa cek review G&R gue disini.


Film ini setting nya di SMA, dan sangat relatable dengan anak SMA di Indonesia 2017. Meski shot-shot yang disajikan tidak terlalu “berkelas”, tapi cukup buat menggambarkan suasana SMA. So overall, ini film remaja. Yang remaja banget. Sekarang gue being ‘sampis’. Gagalnya penyampaian emosi dan konflik yang datang berderet menjadi masalah utama di film ini. Peace out. Pendek kan tulisannya? :)
Ooh, and I love this shot very much.



1 comment: