Tuesday, November 9, 2021

Kuis V-Class 1: Social Network Analysis

 Halo, perkenalkan saya Daffa Akhmad Fadhillah, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Gunadarma. Kali ini saya akan menguraikan materi dari konsep dasar Jaringan.

Apa itu Social Network Analysis?

Jejaring sosial memiliki dua elemen dasar dan satu opsional (point ketiga): 

1. Satu set node (alias simpul) - objek dalam jaringan 

2. Satu set atau set hubungan (alias relasi, koneksi, edge, arc -ties bisa diarahkan atau tidak 

3. Opsional, sekumpulan atribut - informasi tambahan yang kita miliki tentang node 

Analisis Jaringan 

• Network - Bagaimana merepresentasikan berbagai jaringan sosial 

• Tie Strengths - Bagaimana mengidentifikasi kekuatan ikatan dalam jaringan 

• Key Player - Bagaimana mengidentifikasi ‘Key central node’ dalam jaringan 

• Cohesion - Mengukur keseluruhan sturktur jaringan

Jaringan: Bagaimana merepresentasikan berbagai jaringan sosial

Matrik kedekatan (Adjacency Matrix) – Directed and Binary

Dari matriks kita dapat membuat grafik (alias diagram jaringan, sosiogram) 
Dalam ruang SNA dipetakan seluruhnya dalam koneksi

Grafik matrik dengan atribut node

Jaringan: Ego atau Keseluruhan?

Ego Network
• Jaringan ego berpusat pada node tertentu dan hubungannya dengan alters 
• dapat diekstraksi dari seluruh jaringan 
• Tapi bisa dikumpulkan alih-alih seluruh jaringan 
• Berguna untuk menganalisis domain jaringan (White, 2008) 
Catatan : Jaringan ego tidak pernah benar-benar utuh. Batasi Masalah, dll

Tie Strenghs: Bagaimana mengidentifikasi kuat atau lemahnya ikatan
• Ikatan menggambarkan interaksi, aliran informasi atau barang, dll. 
• Besaran ikatan (Tebal/Tipis) dapat mengindikasikan kekuatan dari interaksi atau frekuensi

Key Player: Bagaimana mengidentifikasi actor utama dalam jaringan
Pengukuran Centrality – Level Aktor
• Degree Centrality 
Ada tidaknya ikatan yang masuk (Indegree)/keluar (Outdegree) dari node - keterhubungan/pengaruh/popularitas. 
• Betweeness Centrality (Nilai 0 s.d 1) 
Node yang menghubungkan dua node lainnya – Gateway/Bridge 
• Closeness Centrality (Nilai 0 s.d 1) 
Ukuran Jangkauan/Kedekatan Aktor – Di ukur dari berapa langkah seorang aktor dapat menghubungi aktor lain. 
• Eigenvector Centrality (Nilai 0 s.d 1) Seberapa penting atau seberapa popular node yang berjaringan dengan aktor.

Cohesion: Pengukuran keseluruhan sturktur jaringan 
Level Sistem – Karakteristik dan Stuktur Jaringan
• Reciprocity (Nilai 0 s.d 1) 
Indikator mutualitas dan pertukaran timbal balik – Kohesif 
Relasi anggota searah atau dua arah 
• Density (Nilai 0 s.d 1) 
Intensitas antar anggota jaringan dalam berkomunikasi 
• Size 
Ukuran dari suatu jaringan menentukan karakteristik suatu jaringan 
Jaringan dengan ukuran kecil – Lebih kohesif, intensitas komunikasi lebih sering
• Centralization (Nilai 0 s.d 1) 
Seberapa memusatnya suatu jaringan pada beberapa aktor 
• Diameter dan Jarak/Distance 
Diameter – Jarak terjauh di antrara dua aktor dalam suatu jaringan. 
Jarak – Rata-rata langkah yang dibutuhkan oleh semua aktor untuk bisa saling berinteraksi. 
• Modularity 
Pengukuran untuk mendeteksi banyaknya komunitas/group/genk yang ada di dalam suatu graph.

Sekian dulu materi kali ini. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Sampai jumpa di materi selanjutnya!





Monday, November 8, 2021

Tugas Forum VClass 1: Social Network Analysis

Halo perkenalkan nama saya Daffa Akhmad Fadhillah, mahasiswa fakultas Ilmu Komunikasi universitas Gunadarma. Saya akan menjawab pertanyaan dari tugas forum vclass 1 pada mata kuliah Social Network Analysis, yang pertanyaannya :

"Konsep dasar jaringan merupakan bentuk representasi dari edges dan nodes, bagaimana Anda bisa menjelaskannya dalam konsep keilmuan Komunikasi ?"

Berdasarkan pertanyaan diatas, edges dan nodes adalah unsur terpenting dalam konsep keilmuan komunikasi karena dapat membentuk sebuah jaringan komunikasi. Edges bisa dikatakan sebagai garis penghubung dan nodes sebagai aktor yang melakukan interaksi hubungan.

Saturday, January 11, 2020

[Note] Dini Hari.


Seseorang yang merasa dirinya tidak sempurna berjuang atas keinginannya di dunia hingga akhirnya dia tidak peduli lagi. Karena dunia telah menyakitinya dan tidak ada teman yang mau mendukungnya. Mimpi-mimpinya runtuh bersamaan dengan harapannya yang jatuh. Dia menjadi seorang yang apatis dan lebih memilih untuk menutup diri dari dunia. Karena sesungguhnya hanya pada kasur dia berteduh, dan kepada ranjang lah dia kembali.

Sejak kecil dia selalu diberitahu untuk bermimpi yang tinggi, memiliki cita-cita yang cerah. Tapi dengan mental manja dan pemalasnya itu, dia hanya merasa tertekan dengan segala pencapaian yang diraih oleh orang-orang terdekatnya. Bahkan kini dia meragukan apakah orang-orang yang biasa dia sebut sebagai “teman” itu juga menganggap dia sebagai temannya. Dia ingin diangap ada, dan bukan hanya sekedar angin lalu. Dia ingin dikenang, dia ingin berjasa.

Saat bersama “teman-temannya”, kadang dia merasa nyaman. Dia bisa menjadi orang yang dia inginkan untuk sesaat. Keluh kesah bebas untuk dia ceritakan, tidak peduli apakah “teman-temannya” itu akan mendengarkan atau tidak. Dia terlalu egois untuk mendengarkan, dan hanya ingin didengar. Karena dalam hatinya, terlalu banyak cerita yang ingin dia sampaikan. Cerita buah hasil dari jungkir balik di ranjang seharian penuh.

Seseorang pernah mengatakan pada dirinya, bahwa dia sudah memiliki segalanya. Untuk apa berjuang lagi? Dan jika dia memilih lingkungan pertemanan yang tepat, dia bisa jadi orang terpintar di lingkaran tersebut dan bisa berbusung dada sepuasnya. Tapi dia lebih memilih tersiksa akibat mengenal orang-orang yang jauh lebih tinggi di atasnya. Dia merasa tertekan dan tidak tahu harus berbuat apa. Karena seakan-akan “teman-temannya” telah hilang atau direbut darinya. Akibat dia yang tidak pernah menghargai “teman-temannya”. Tapi apakah “teman-temannya” menghargai dia? Apakah mereka menganggap dia ada? Apa dia selalu diajak untuk menikmati kehidupan bersama? Kenapa dia selalu bersedih di ranjangnya, merasa menyesal dan membenci akan kehidupan?

Sebenarnya apa yang kurang darinya? Kenapa orang-orang menjauhinya? Padahal dia sedang menderita. Tidak ada yang peduli padanya.

Orang tuanya selalu bercerita tentang pengalaman masa kecil mereka, yang mana itu sudah tidak relevan baginya. Era sudah berubah. Sesungguhnya apa mereka tahu realita masa kini 180 derajat jauhnya dibandingkan di era mereka?

Kini dia hanya bisa berjuang sendiri. Tanpa tahu dia akan selamat atau gugur di medan perang.

Monday, April 30, 2018

[Review] AVENGERS: INFINITY WAR (2018)


                Sepuluh tahun yang lalu, Marvel Studios hadir dengan film pertamanya yakni Iron Man (2008). Kini setelah 18 film, hadirlah sebuah mega film yang sudah dinanti-nanti para penggemarnya. Bagaimana tidak? Dalam 10 tahun perjalanannya, Marvel Studios telah menghadirkan berbagai macam cerita dalam beragam genre. Seolah seluruh aspek kehidupan telah dirangkum dalam film-filmnya. Mulai dari lika-liku kehidupan anak SMA dalam Spider-Man Homecoming (2017), hingga yang sangat mendekati representasi suatu budaya dalam Black Panther (2018). Tanpa kita sadari selama 10 tahun ini, kita tumbuh bersama karakter-karakter ini. Karakter yang juga selalu berkembang di setiap filmnya. Dan pada akhirnya, dirilislah film Infinity War ini, dimana semua karakter utama di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) dipertemukan.


Pastinya ekspektasi para penggemar tidak terbendung lagi. Membayangkan nasib apa yang akan terjadi kepada karakter-karakter yang telah tumbuh bersama kita selama 10 tahun. Apa yang akan terjadi kepada karakter yang kita sayangi. Hasil akhirnya adalah sebuah film yang super epik, megah, kelam, tapi tanpa menghilangkan cita rasa asli Marvel. Di film ini Marvel menembus batas yang belum pernah ditembus di film-film sebelumnya. Fokus film ini adalah bagaimana para Avengers melawan Thanos yang berniat mengumpulkan 6 Infinity Stones dalam niatnya melenyapkan separuh umat manusia. 


Para Avengers tampil memikat seperti biasa. Tapi daya tarik utama disini justru adalah sang antagonis utama. Thanos adalah bukti dari penulisan skrip yang amat baik.  Motif Thanos dalam melakukan kejahatannya dibangun dengan begitu baik sehingga tanpa sadar juga membuat penonton bersimpati dengannya. Ya, anda tidak salah baca. Disaat penjahat diluar sana menunggu untuk dibenci, Thanos hadir bukan hanya untuk dibenci. Tapi juga untuk diberi iba dari penontonnya. Selain Thanos, duo sutradara Russo bersaudara juga pantas untuk diberi pujian. 


Film dengan durasi 2 setengah jam berasa film dengan durasi 1 jam. Nagih! Dan bisa membuat film dengan karakter sebanyak itu tetap berjalan dengan mulus, tidak terpisah, dan tetap padat. Film ini dikemas dengan beragam aksi yang seru dan menyenangkan, tidak lupa pula dengan bumbu kekeluargaan yang sangat emosional, terlebih jika anda sudah mengikuti MCU sejak 10 tahun yang lalu. Pasti anda akan merasa sangat emosional, terlebih jika anda telah mencapai akhir film. Jika ada yang bilang kalau film ini kurang pengenalan karakter dan pendalaman karakter, memang benar. Karena itu semua kan sudah dilakukan di film-film sebelumnya. Jadi film ini langsung to the point ke inti permasalahan tanpa basa-basi. Akhir kata film ini sangat memuaskan. Percayalah kepada hype yang ada. Dijamin anda akan puas.



Sunday, January 28, 2018

[Puisi] U

canda kita kala itu
memicu memori masa lalu
sentuhan jemarimu
terbayang dalam hatiku
andai engkau tahu
betapa ku menyayangimu
mungkin kau kan malu
telah mengenalku
tapi dia pasti mampu
untuk menjagamu
karena hanya kamu
yang paham hatimu
bukan aku
tapi kamu
sedangkan aku?
peduli apa kamu terhadap ku?
hanya masa lalu yang menganggapku

[Puisi] yang terlewatkan

menghampiri                         

                             lalu pergi

datang                            

                                lalu pulang

siapa yang patut disalahkan?

kami?
Dia?
atau alam semesta?

satu yang pasti

yang berdetak tak akan kembali

Friday, October 13, 2017

[Review] PENGABDI SETAN (2017): Sebuah Standar Baru Bagi Genre Horror di Indonesia


2017 has been a great year for horror movies in Indonesia. Buktinya ada 4 judul film horror di daftar Top 10 film Indonesia terlaris 2017 yang berhasil menembus angka 1 juta penonton. Bahkan 3 diantaranya menembus lebih dari 2 juta penonton. Bukti lainnya adalah selalu ada film horror lokal yang tayang setiap minggu nya mulai awal September sampai dengan pertengahan Oktober. Ya, genre horror benar-benar telah bangkit kembali. Persaingan pun dimulai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Karena apalah arti sebuah film jika hanya fokus di segi kuantitas dan melupakan kualitas. Ditengah banyaknya film horror yang bermunculan di bioskop tanah air, tidak banyak yang terlalu memperdulikan segi kualitas. Walaupun film horror saat ini jauh lebih baik dari film horror yang muncul di era 2009-2012 yang sangat mengeksploitasi bagian tubuh sang aktor perempuan atau dengan lawakan-lawakan garing nya, masih sedikit film horror yang bisa “menghantui” ataupun layak disebut  “seram”. Bahkan film dengan budget lebih dari 5 milyar rupiah pun belum tentu bisa memberikan efek kengerian yang diharapkan penonton.


Hingga muncullah film PENGABDI SETAN, sebuah remake dari film berjudul sama yang rilis pada tahun 1982 silam. Film ini disutradarai oleh Joko Anwar, seorang sutradara kenamaan bangsa yang dikenal dengan film-filmnya yang cukup idealis. Sebut saja contohnya Kala dan Pintu Terlarang. Kala yang merupakan film bergenre noir pertama di Indonesia, sedangkan Pintu Terlarang yang merupakan film adaptasi dari novel berjudul sama bergenre psychological thriller karangan Sekar Ayu Asmara. Pintu Terlarang sendiri adalah film Indonesia favorit saya sepanjang masa. Kedua film tersebut bisa dibilang idealis karena tergolong “nyentrik” dan cukup nekat. Karena pada jamannya penonton Indonesia belum terbiasa dengan genre seperti itu, alhasil kedua film tersebut flop di pasaran. Meskipun flop, kedua film tersebut sangat dipuji-puji oleh kritikus dan mempunyai penggemar tersendiri di kalangan tertentu. Kali ini Joko Anwar merilis PENGABDI SETAN, debut horror dan film komersil pertama dari beliau. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ulang sebuah film adalah filmnya harus lives up to the hype dengan film aslinya. Jangan sampai malah mengurangi kualitas yang telah dibangun oleh film aslinya. Apalagi film aslinya dicap sebagai film horror Indonesia terseram oleh majalah Rolling Stone Indonesia. Sangatlah mengecewakan apabila kualitas film remake nya lebih rendah daripada film original nya.


Di remake PENGABDI SETAN ini, menceritakan sebuah keluarga beranak empat dengan ibunya yang sudah sakit parah selama lebih dari 3 tahun. Keluarga ini pun jatuh miskin dan harus pindah ke rumah sang nenek yang berada di desa. Sang Ibu pun meninggal dunia. Bapak dari keempat anak tersebut harus pergi ke luar kota untuk mencari nafkah, meninggalkan empat anaknya bersama sang nenek. Setelah kepergian sang ayah, mulai banyak kejadian di rumah tersebut. Mulai dari suara-suara aneh hingga penampakan yang berwujud sang Ibu.


Di film ini Joko Anwar menggunakan pendekatan atmospheric horror, yang katanya tidak mengandalkan jumpscare, but it gets to your skin. Benar saja, beberapa jumpscare memang predictable karena memang fokus utamanya bukan di jumpscare. Tapi dalam build-up nya penonton dibuat merinding menantikan apa yang akan muncul selanjutnya. Bahkan jika pun penonton sudah tau apa yang akan muncul selanjutnya, tetap akan dibuat penasaran karena eksekusi nya yang tidak main-main. Selipan komedi yang dimasukkan juga cukup fresh. Tidak receh, tidak garing, tapi klop. Sangat pas buat penonton yang ingin mengambil nafas setelah dibuat sport jantung. Cerita keluarga yang dibangun pun cukup solid. Penonton dibuat peduli dan ikut merasakan emosional dengan berbagai kejadian yang menimpa keluarga ini. Tentunya bukan hanya faktor cerita saja yang membuat penonton ikut merasa peduli dengan situasi keluarga. Tetapi peran aktor juga sangat dibutuhkan dalam membangun karakter yang likeable dan bisa mengeluarkan rasa empati penonton. Salah satu faktor lain yang membuat remake PENGABDI SETAN ini memorable adalah karena Joko Anwar bisa membuat benda-benda di dalam film menjadi sangat ikonik. Beberapa diantaranya ada ibu, lonceng, sisir, radio, telur dadar, View-Master, sumur, payung, hingga biji saga. Benda-benda tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik hingga para penonton pun jika mendengar salah satu nama benda tersebut langsung ingat bahwa benda itu ada di dalam film ini.


Last words, PENGABDI SETAN memang bukan film terseram yang pernah saya tonton. Tapi film ini telah membuat standar baru bagi genre horror di Indonesia. Jika ada yang mau membuat film horror Indonesia yang bagus, harus bisa lebih seram dari ini. Puncak dari standar film horror Indonesia.