Friday, August 26, 2022

[Review] MENCURI RADEN SALEH (2022): Perlawanan Hadir dalam Berbagai Bentuk

 

"Tapi dia harus tau, kalau kita juga bisa ngelawan."

– Piko (Iqbaal Ramadhan)


Rasa kagum dan bangga mungkin merupakan ekspresi yang tepat melihat betapa beraninya film ini berusaha menggapai pencapaian baru di industri perfilman Indonesia, terutama dalam kategori film genre. Film ber-genre heist bisa dibilang sangat jarang kehadirannya dalam film Indonesia, dan film ini hadir dengan persiapannya yang sangat-sangat matang dan eksekusi yang luar biasa padat. Memanfaatkan 2,5 jam durasinya tanpa kedodoran seakan-akan tugas yang mudah bagi film ini, dikarenakan karakternya yang memiliki keunikan dan ketertarikan masing-masing, juga memiliki motivasi plot yang jelas.


Dikisahkan Piko (Iqbaal Ramadhan), seorang mahasiswa yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemalsu lukisan, dan kali ini mendapatkan tawaran untuk membuat replikasi lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karya Raden Saleh, sang maestro. Tapi dengan adanya kejadian tak terduga, yang awalnya hanya sekadar mereplika lukisan, kini Piko dan kawan-kawan harus menukar lukisan yang asli dengan palsu. Dan tentu saja semua tidak akan berjalan semulus itu.


Menggunakan lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" sebagai sorotan utama dalam film ini tentunya bukan tanpa alasan, ataupun karena sekadar Raden Saleh merupakan nama yang paling mudah diingat ketika disuruh menyebutkan nama-nama pelukis di Indonesia. Lukisan tersebut menggambarkan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro yang dijebak secara licik dan curang pada tahun 1830. Lima tahun kemudian, seorang pelukis asal Belanda yang bernama Nicolas Pieneman membuat lukisan atas peristiwa tersebut yang diberi judul "Penyerahan Pangeran Diponegoro", di mana digambarkan kekalahan Diponegoro dan kegemilangan Belanda.


Lukisan tersebut rupanya memancing rasa "perlawanan" dari seorang Raden Saleh, dengan cara membuat lukisan "tandingan" yang hampir menyerupai lukisan sebelumnya namun memiliki banyak perubahan. Seperti perubahan sudut pandang agar bendera Belanda tidak terlihat, ekspresi Diponegoro yang lebih mendongak ke atas, dan mengubah judul lukisan tersebut dari “Penyerahan” menjadi “Penangkapan”.


Menariknya, yang dilakukan Piko dan kawan-kawan sepanjang film ini seperti berefleksi kepada kejadian penangkapan Diponegoro yang sesungguhnya merupakan penjebakan, ataupun berefleksi kepada landasan mengapa Raden Saleh membuat lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yakni perlawanan. Dua hal yang sangat mungkin menimpa siapapun termasuk anak muda.


Perlawanan yang dilakukan oleh para komplotan di film ini mungkin hampir sama dengan yang apa Raden Saleh lakukan hampir 200 tahun lalu. Bahkan ketika negara sudah merdeka pun akan tetap ada kekuasaan yang lebih tinggi yang akan memanfaatkan atau mengontrol yang kedudukannya lebih rendah dari mereka untuk kepentingan pribadi dari sang penguasa tersebut. Semua ini tergambarkan cukup believeable dikarenakan dunia dan karakternya yang dibuat grounded sedemikian rupa dan tidak terlihat over-the-top ataupun kartunis.


Secara teknis, Angga Sasongko selaku sutradara sepertinya tidak mau terlihat seperti sedang bermain aman. Massive set pieces, sinematografi unik dari Bagoes Tresna Adji, serta scoring majestic dari Abel Huray benar-benar memberikan statement bahwa film Mencuri Raden Saleh merupakan film berskala besar yang diciptakan untuk membuat penontonnya ikut menjadi bagian dari pencurian tersebut. Dan serta merta tidak hanya menjadikan filmnya sebagai ajang pamer teknis namun juga memiliki subyek dan urgensi yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Ini juga merupakan bentuk perlawanan dari para pembuat film untuk bisa melampaui kapabilitas mereka sebagai pembuat film di bidangnya masing-masing untuk menghasilkan karya yang tidak biasa.


Mencuri Raden Saleh dengan segala keseriusan dan kemantapannya dalam bercerita, pantas dinobatkan sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun 2022 ini. Semoga kehadirannya disambut dengan hangat dan industri perfilman Indonesia memiliki variasi genre yang lebih beragam namun tetap memiliki substansi yang signifikan.




Sunday, July 31, 2022

[Review] PENGABDI SETAN 2: COMMMUNION (2022)

I do definitely had hopes for this one. Specifically because I love Joko Anwar's works pre-Satan Slaves (and also Satan Slaves itself). The dude also has this perfect branding and persona that he oftenly shapes and shares on social media. Whether his views on politics, religions, social, culture, and even obsessions of the unknown. His past works oftenly reflects his persona and audiences who watched them can feel the love and passion that he put in his films.

But not until his last two feature films that I felt kinda stumbled upon putting his personal views into his films and the need to satisfy more wider audiences (since Satan Slaves was the first major box office success in his career). Feels very hard to balance two of these things in able to make a more coherent film and not just an arena for his fans to putting together a puzzle that somewhat is not important to non-fans audience.

During the first act of Satan Slaves 2, I was surprised about the setting and the discourse that this film is trying to bring. The socio-politic content was the last thing that I could think of when it comes to Satan Slaves. And the introduction of the apartment is just top notch. From the various residents to the eerie atmosphere, like an almost perfect way to start your film (also reminded me of Fiksi, Mouly Surya's film that was written by Joko). It's almost like giving a bit of taste of what's the film going to become, and makes me as an audience believe that the scale in this one is going to be bigger than the first film. To be honest during the first act alone, I was ready to say that somehow Joko's going for his old path in filmmaking. With more critical content and unique treatment. And might be one of Joko's best.

But as the second act begin, the film kinda abandoned all of that critical setup in the first act. Making it just an exploration of mystery (for some characters) and a mumbo-jumbo of terrors (for some other characters, including new ones). For the mystery itself, we didn't really get some new informations about the cult and the deadites. Most of it already been given in the first film. And about the terror, I was hoping for arc-related terrors for the new characters, instead of some random terror and then jumpscares. But I gotta admit, the treatment for the horror sequences are kinda unique, and the technical unit really excels at what they done. But then again, too much pointless terrors with uninteresting payoffs are kinda bit dull.
My question is, why abandon such high concept that was already brought in the first act and just went through the generic "exploring and get scared" trope in the second act? It feels like Joko just repeating his own (I don't know, should I call it casualties at this point, because he did this for three times in a row now?). If he did this to get in the way of public audiences heart, I believe there's a more solid way instead of just making your film a terror fest. Is it a wasted potential? If I may say, yes. It is. Because I know Joko's able to be full blown Joko Anwar with his critical, sassy, and unexpected mind. And I will wait if he's ever gonna do that again.




Tuesday, November 9, 2021

Kuis V-Class 1: Social Network Analysis

 Halo, perkenalkan saya Daffa Akhmad Fadhillah, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Gunadarma. Kali ini saya akan menguraikan materi dari konsep dasar Jaringan.

Apa itu Social Network Analysis?

Jejaring sosial memiliki dua elemen dasar dan satu opsional (point ketiga): 

1. Satu set node (alias simpul) - objek dalam jaringan 

2. Satu set atau set hubungan (alias relasi, koneksi, edge, arc -ties bisa diarahkan atau tidak 

3. Opsional, sekumpulan atribut - informasi tambahan yang kita miliki tentang node 

Analisis Jaringan 

• Network - Bagaimana merepresentasikan berbagai jaringan sosial 

• Tie Strengths - Bagaimana mengidentifikasi kekuatan ikatan dalam jaringan 

• Key Player - Bagaimana mengidentifikasi ‘Key central node’ dalam jaringan 

• Cohesion - Mengukur keseluruhan sturktur jaringan

Jaringan: Bagaimana merepresentasikan berbagai jaringan sosial

Matrik kedekatan (Adjacency Matrix) – Directed and Binary

Dari matriks kita dapat membuat grafik (alias diagram jaringan, sosiogram) 
Dalam ruang SNA dipetakan seluruhnya dalam koneksi

Grafik matrik dengan atribut node

Jaringan: Ego atau Keseluruhan?

Ego Network
• Jaringan ego berpusat pada node tertentu dan hubungannya dengan alters 
• dapat diekstraksi dari seluruh jaringan 
• Tapi bisa dikumpulkan alih-alih seluruh jaringan 
• Berguna untuk menganalisis domain jaringan (White, 2008) 
Catatan : Jaringan ego tidak pernah benar-benar utuh. Batasi Masalah, dll

Tie Strenghs: Bagaimana mengidentifikasi kuat atau lemahnya ikatan
• Ikatan menggambarkan interaksi, aliran informasi atau barang, dll. 
• Besaran ikatan (Tebal/Tipis) dapat mengindikasikan kekuatan dari interaksi atau frekuensi

Key Player: Bagaimana mengidentifikasi actor utama dalam jaringan
Pengukuran Centrality – Level Aktor
• Degree Centrality 
Ada tidaknya ikatan yang masuk (Indegree)/keluar (Outdegree) dari node - keterhubungan/pengaruh/popularitas. 
• Betweeness Centrality (Nilai 0 s.d 1) 
Node yang menghubungkan dua node lainnya – Gateway/Bridge 
• Closeness Centrality (Nilai 0 s.d 1) 
Ukuran Jangkauan/Kedekatan Aktor – Di ukur dari berapa langkah seorang aktor dapat menghubungi aktor lain. 
• Eigenvector Centrality (Nilai 0 s.d 1) Seberapa penting atau seberapa popular node yang berjaringan dengan aktor.

Cohesion: Pengukuran keseluruhan sturktur jaringan 
Level Sistem – Karakteristik dan Stuktur Jaringan
• Reciprocity (Nilai 0 s.d 1) 
Indikator mutualitas dan pertukaran timbal balik – Kohesif 
Relasi anggota searah atau dua arah 
• Density (Nilai 0 s.d 1) 
Intensitas antar anggota jaringan dalam berkomunikasi 
• Size 
Ukuran dari suatu jaringan menentukan karakteristik suatu jaringan 
Jaringan dengan ukuran kecil – Lebih kohesif, intensitas komunikasi lebih sering
• Centralization (Nilai 0 s.d 1) 
Seberapa memusatnya suatu jaringan pada beberapa aktor 
• Diameter dan Jarak/Distance 
Diameter – Jarak terjauh di antrara dua aktor dalam suatu jaringan. 
Jarak – Rata-rata langkah yang dibutuhkan oleh semua aktor untuk bisa saling berinteraksi. 
• Modularity 
Pengukuran untuk mendeteksi banyaknya komunitas/group/genk yang ada di dalam suatu graph.

Sekian dulu materi kali ini. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Sampai jumpa di materi selanjutnya!





Monday, November 8, 2021

Tugas Forum VClass 1: Social Network Analysis

Halo perkenalkan nama saya Daffa Akhmad Fadhillah, mahasiswa fakultas Ilmu Komunikasi universitas Gunadarma. Saya akan menjawab pertanyaan dari tugas forum vclass 1 pada mata kuliah Social Network Analysis, yang pertanyaannya :

"Konsep dasar jaringan merupakan bentuk representasi dari edges dan nodes, bagaimana Anda bisa menjelaskannya dalam konsep keilmuan Komunikasi ?"

Berdasarkan pertanyaan diatas, edges dan nodes adalah unsur terpenting dalam konsep keilmuan komunikasi karena dapat membentuk sebuah jaringan komunikasi. Edges bisa dikatakan sebagai garis penghubung dan nodes sebagai aktor yang melakukan interaksi hubungan.

Saturday, January 11, 2020

[Note] Dini Hari.


Seseorang yang merasa dirinya tidak sempurna berjuang atas keinginannya di dunia hingga akhirnya dia tidak peduli lagi. Karena dunia telah menyakitinya dan tidak ada teman yang mau mendukungnya. Mimpi-mimpinya runtuh bersamaan dengan harapannya yang jatuh. Dia menjadi seorang yang apatis dan lebih memilih untuk menutup diri dari dunia. Karena sesungguhnya hanya pada kasur dia berteduh, dan kepada ranjang lah dia kembali.

Sejak kecil dia selalu diberitahu untuk bermimpi yang tinggi, memiliki cita-cita yang cerah. Tapi dengan mental manja dan pemalasnya itu, dia hanya merasa tertekan dengan segala pencapaian yang diraih oleh orang-orang terdekatnya. Bahkan kini dia meragukan apakah orang-orang yang biasa dia sebut sebagai “teman” itu juga menganggap dia sebagai temannya. Dia ingin diangap ada, dan bukan hanya sekedar angin lalu. Dia ingin dikenang, dia ingin berjasa.

Saat bersama “teman-temannya”, kadang dia merasa nyaman. Dia bisa menjadi orang yang dia inginkan untuk sesaat. Keluh kesah bebas untuk dia ceritakan, tidak peduli apakah “teman-temannya” itu akan mendengarkan atau tidak. Dia terlalu egois untuk mendengarkan, dan hanya ingin didengar. Karena dalam hatinya, terlalu banyak cerita yang ingin dia sampaikan. Cerita buah hasil dari jungkir balik di ranjang seharian penuh.

Seseorang pernah mengatakan pada dirinya, bahwa dia sudah memiliki segalanya. Untuk apa berjuang lagi? Dan jika dia memilih lingkungan pertemanan yang tepat, dia bisa jadi orang terpintar di lingkaran tersebut dan bisa berbusung dada sepuasnya. Tapi dia lebih memilih tersiksa akibat mengenal orang-orang yang jauh lebih tinggi di atasnya. Dia merasa tertekan dan tidak tahu harus berbuat apa. Karena seakan-akan “teman-temannya” telah hilang atau direbut darinya. Akibat dia yang tidak pernah menghargai “teman-temannya”. Tapi apakah “teman-temannya” menghargai dia? Apakah mereka menganggap dia ada? Apa dia selalu diajak untuk menikmati kehidupan bersama? Kenapa dia selalu bersedih di ranjangnya, merasa menyesal dan membenci akan kehidupan?

Sebenarnya apa yang kurang darinya? Kenapa orang-orang menjauhinya? Padahal dia sedang menderita. Tidak ada yang peduli padanya.

Orang tuanya selalu bercerita tentang pengalaman masa kecil mereka, yang mana itu sudah tidak relevan baginya. Era sudah berubah. Sesungguhnya apa mereka tahu realita masa kini 180 derajat jauhnya dibandingkan di era mereka?

Kini dia hanya bisa berjuang sendiri. Tanpa tahu dia akan selamat atau gugur di medan perang.

Monday, April 30, 2018

[Review] AVENGERS: INFINITY WAR (2018)


                Sepuluh tahun yang lalu, Marvel Studios hadir dengan film pertamanya yakni Iron Man (2008). Kini setelah 18 film, hadirlah sebuah mega film yang sudah dinanti-nanti para penggemarnya. Bagaimana tidak? Dalam 10 tahun perjalanannya, Marvel Studios telah menghadirkan berbagai macam cerita dalam beragam genre. Seolah seluruh aspek kehidupan telah dirangkum dalam film-filmnya. Mulai dari lika-liku kehidupan anak SMA dalam Spider-Man Homecoming (2017), hingga yang sangat mendekati representasi suatu budaya dalam Black Panther (2018). Tanpa kita sadari selama 10 tahun ini, kita tumbuh bersama karakter-karakter ini. Karakter yang juga selalu berkembang di setiap filmnya. Dan pada akhirnya, dirilislah film Infinity War ini, dimana semua karakter utama di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) dipertemukan.


Pastinya ekspektasi para penggemar tidak terbendung lagi. Membayangkan nasib apa yang akan terjadi kepada karakter-karakter yang telah tumbuh bersama kita selama 10 tahun. Apa yang akan terjadi kepada karakter yang kita sayangi. Hasil akhirnya adalah sebuah film yang super epik, megah, kelam, tapi tanpa menghilangkan cita rasa asli Marvel. Di film ini Marvel menembus batas yang belum pernah ditembus di film-film sebelumnya. Fokus film ini adalah bagaimana para Avengers melawan Thanos yang berniat mengumpulkan 6 Infinity Stones dalam niatnya melenyapkan separuh umat manusia. 


Para Avengers tampil memikat seperti biasa. Tapi daya tarik utama disini justru adalah sang antagonis utama. Thanos adalah bukti dari penulisan skrip yang amat baik.  Motif Thanos dalam melakukan kejahatannya dibangun dengan begitu baik sehingga tanpa sadar juga membuat penonton bersimpati dengannya. Ya, anda tidak salah baca. Disaat penjahat diluar sana menunggu untuk dibenci, Thanos hadir bukan hanya untuk dibenci. Tapi juga untuk diberi iba dari penontonnya. Selain Thanos, duo sutradara Russo bersaudara juga pantas untuk diberi pujian. 


Film dengan durasi 2 setengah jam berasa film dengan durasi 1 jam. Nagih! Dan bisa membuat film dengan karakter sebanyak itu tetap berjalan dengan mulus, tidak terpisah, dan tetap padat. Film ini dikemas dengan beragam aksi yang seru dan menyenangkan, tidak lupa pula dengan bumbu kekeluargaan yang sangat emosional, terlebih jika anda sudah mengikuti MCU sejak 10 tahun yang lalu. Pasti anda akan merasa sangat emosional, terlebih jika anda telah mencapai akhir film. Jika ada yang bilang kalau film ini kurang pengenalan karakter dan pendalaman karakter, memang benar. Karena itu semua kan sudah dilakukan di film-film sebelumnya. Jadi film ini langsung to the point ke inti permasalahan tanpa basa-basi. Akhir kata film ini sangat memuaskan. Percayalah kepada hype yang ada. Dijamin anda akan puas.



Sunday, January 28, 2018

[Puisi] U

canda kita kala itu
memicu memori masa lalu
sentuhan jemarimu
terbayang dalam hatiku
andai engkau tahu
betapa ku menyayangimu
mungkin kau kan malu
telah mengenalku
tapi dia pasti mampu
untuk menjagamu
karena hanya kamu
yang paham hatimu
bukan aku
tapi kamu
sedangkan aku?
peduli apa kamu terhadap ku?
hanya masa lalu yang menganggapku

[Puisi] yang terlewatkan

menghampiri                         

                             lalu pergi

datang                            

                                lalu pulang

siapa yang patut disalahkan?

kami?
Dia?
atau alam semesta?

satu yang pasti

yang berdetak tak akan kembali

Friday, October 13, 2017

[Review] PENGABDI SETAN (2017): Sebuah Standar Baru Bagi Genre Horror di Indonesia


2017 has been a great year for horror movies in Indonesia. Buktinya ada 4 judul film horror di daftar Top 10 film Indonesia terlaris 2017 yang berhasil menembus angka 1 juta penonton. Bahkan 3 diantaranya menembus lebih dari 2 juta penonton. Bukti lainnya adalah selalu ada film horror lokal yang tayang setiap minggu nya mulai awal September sampai dengan pertengahan Oktober. Ya, genre horror benar-benar telah bangkit kembali. Persaingan pun dimulai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Karena apalah arti sebuah film jika hanya fokus di segi kuantitas dan melupakan kualitas. Ditengah banyaknya film horror yang bermunculan di bioskop tanah air, tidak banyak yang terlalu memperdulikan segi kualitas. Walaupun film horror saat ini jauh lebih baik dari film horror yang muncul di era 2009-2012 yang sangat mengeksploitasi bagian tubuh sang aktor perempuan atau dengan lawakan-lawakan garing nya, masih sedikit film horror yang bisa “menghantui” ataupun layak disebut  “seram”. Bahkan film dengan budget lebih dari 5 milyar rupiah pun belum tentu bisa memberikan efek kengerian yang diharapkan penonton.


Hingga muncullah film PENGABDI SETAN, sebuah remake dari film berjudul sama yang rilis pada tahun 1982 silam. Film ini disutradarai oleh Joko Anwar, seorang sutradara kenamaan bangsa yang dikenal dengan film-filmnya yang cukup idealis. Sebut saja contohnya Kala dan Pintu Terlarang. Kala yang merupakan film bergenre noir pertama di Indonesia, sedangkan Pintu Terlarang yang merupakan film adaptasi dari novel berjudul sama bergenre psychological thriller karangan Sekar Ayu Asmara. Pintu Terlarang sendiri adalah film Indonesia favorit saya sepanjang masa. Kedua film tersebut bisa dibilang idealis karena tergolong “nyentrik” dan cukup nekat. Karena pada jamannya penonton Indonesia belum terbiasa dengan genre seperti itu, alhasil kedua film tersebut flop di pasaran. Meskipun flop, kedua film tersebut sangat dipuji-puji oleh kritikus dan mempunyai penggemar tersendiri di kalangan tertentu. Kali ini Joko Anwar merilis PENGABDI SETAN, debut horror dan film komersil pertama dari beliau. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ulang sebuah film adalah filmnya harus lives up to the hype dengan film aslinya. Jangan sampai malah mengurangi kualitas yang telah dibangun oleh film aslinya. Apalagi film aslinya dicap sebagai film horror Indonesia terseram oleh majalah Rolling Stone Indonesia. Sangatlah mengecewakan apabila kualitas film remake nya lebih rendah daripada film original nya.


Di remake PENGABDI SETAN ini, menceritakan sebuah keluarga beranak empat dengan ibunya yang sudah sakit parah selama lebih dari 3 tahun. Keluarga ini pun jatuh miskin dan harus pindah ke rumah sang nenek yang berada di desa. Sang Ibu pun meninggal dunia. Bapak dari keempat anak tersebut harus pergi ke luar kota untuk mencari nafkah, meninggalkan empat anaknya bersama sang nenek. Setelah kepergian sang ayah, mulai banyak kejadian di rumah tersebut. Mulai dari suara-suara aneh hingga penampakan yang berwujud sang Ibu.


Di film ini Joko Anwar menggunakan pendekatan atmospheric horror, yang katanya tidak mengandalkan jumpscare, but it gets to your skin. Benar saja, beberapa jumpscare memang predictable karena memang fokus utamanya bukan di jumpscare. Tapi dalam build-up nya penonton dibuat merinding menantikan apa yang akan muncul selanjutnya. Bahkan jika pun penonton sudah tau apa yang akan muncul selanjutnya, tetap akan dibuat penasaran karena eksekusi nya yang tidak main-main. Selipan komedi yang dimasukkan juga cukup fresh. Tidak receh, tidak garing, tapi klop. Sangat pas buat penonton yang ingin mengambil nafas setelah dibuat sport jantung. Cerita keluarga yang dibangun pun cukup solid. Penonton dibuat peduli dan ikut merasakan emosional dengan berbagai kejadian yang menimpa keluarga ini. Tentunya bukan hanya faktor cerita saja yang membuat penonton ikut merasa peduli dengan situasi keluarga. Tetapi peran aktor juga sangat dibutuhkan dalam membangun karakter yang likeable dan bisa mengeluarkan rasa empati penonton. Salah satu faktor lain yang membuat remake PENGABDI SETAN ini memorable adalah karena Joko Anwar bisa membuat benda-benda di dalam film menjadi sangat ikonik. Beberapa diantaranya ada ibu, lonceng, sisir, radio, telur dadar, View-Master, sumur, payung, hingga biji saga. Benda-benda tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik hingga para penonton pun jika mendengar salah satu nama benda tersebut langsung ingat bahwa benda itu ada di dalam film ini.


Last words, PENGABDI SETAN memang bukan film terseram yang pernah saya tonton. Tapi film ini telah membuat standar baru bagi genre horror di Indonesia. Jika ada yang mau membuat film horror Indonesia yang bagus, harus bisa lebih seram dari ini. Puncak dari standar film horror Indonesia.


Thursday, July 6, 2017

[Review] FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017): Perjalanan Dua Sahabat Yang Menyenangkan

https://pbs.twimg.com/media/DD5dtebV0AAfMnL.jpg:orig

Sekuel dari film FILOSOFI KOPI yang dirilis tahun 2015 silam kini hadir dan diberi judul FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY. Masih disutradari oleh Angga Dwimas Sasongko dan naskah yang ditulis oleh Jenny Jusuf dan M. Irfan Ramly, kali ini menceritakan petualangan Ben dan Jody setelah mereka menjual kedai, berjualan dengan combi, dan memutuskan untuk membuka kedai kembali. Jika dibandingkan dengan film sebelumnya, FILOSOFI KOPI 2 ini lebih santai untuk diikuti. Alur nya mengalir lembut, dialog nya menarik, akting pemainnya asik, dan konflik yang tidak terlalu berat. 


Karakter baru yang hadir seperti Luna Maya sebagai Tarra, dan Nadine Alexandra sebagai Brie juga sangat menarik untuk ditelisik masa lalu nya. Bisa dibilang mereka adalah salah satu plot device. Tapi bukan berarti kehadiran mereka tidak penting. Malah menjadi salah satu daya tarik yang cukup menarik. Okay, enough with the chit-chat. Apa sih yang gua omongin barusan? Yang barusan cuma formalitas aja. Filmnya cantik banget. Banyak adegan keliling Indonesia, seperti Jogja, Lampung, Makassar, Toraja, Bali, dan jangan lupakan Jakarta. But something triggered me pas adegan keluar kota. Well, most of them, not all of them. Terasa vague maksud kedatangan mereka ke daerah daerah tersebut. Tapi gak jadi masalah karena ketutup sama dialog yang asik dan directing yang asik juga. Untuk konfliknya sih lebih ringan di film kedua ini. Jika di film pertamanya konflik nya rada berat, ditambah eksekusi yang seperti “lompat-lompat”, itu semua berhasil diperbaiki di film ini. 


Satu lagi, kenapa judulnya Ben dan Jody? Karena emang film ini memperlihatkan persahabatan antar keduanya secara detail. Ada suka dan duka, berhasil dan gagal, sedih dan senang, semua dihadapi bersama. Dan bagaimana cara mereka untuk mengatasi semua masalah yang ada itu bener bener worth to watch. Soundtrack di film kedua ini gak kalah dari soundtrack yang pertama. Super eargasm. In the end, FILOSOFI KOPI 2 memang gak se-filosofis film pertamanya, but more fun and more enjoyable to watch.


Tuesday, June 6, 2017

[Review] THE MUMMY (2017): Tries To Give A Homage To The Original With A Whole Another Story


Bagaimana rasanya jika tiba-tiba ada mayat yang hidup kembali dan mengancam nyawa umat manusia? Inilah yang harus dihadapi oleh Tom Cruise dalam film “The Mummy”. Anda tidak salah baca, memang benar Tom Cruise yang menjadi peran utama. Bukan Brendan Frazier. Disutradai oleh Alex Kurtzman yang sebelumnya pernah menyutradarai film “People Like Us” tahun 2012 silam. “The Mummy” adalah seri pertama dari franchise Universal’s Dark Universe. Bahkan ada logo Dark Universe di awal film. Bercerita tentang Putri Ahmanet yang diperankan oleh Sofia Boutella yang berusaha balas dendam atas apa yang telah diperbuat kepadanya di masa lalu. Film yang berdurasi 1 jam 50 menit ini terasa menyenangkan, tapi disaat yang bersamaan juga bisa terasa menyebalkan. Adegan pembuka dari film ini sangat menjanjikan. Membuat penonton berasumsi “Wah, film ini pasti bakal bagus”. Tak terlewatkan pula aksi “boom boom bang” yang sangat menyenangkan. Di film ini, anda juga akan banyak menemukan “comedic moment” yang akan banyak dibawakan oleh Jake Johnson sebagai Chris Vail, teman dari Nick Morton yang diperankan oleh Tom Cruise. Mungkin karena “The Mummy” yang original punya comedic tone yang kuat, jadi “The Mummy” yang baru ini juga mengikuti formula yang sama. But somehow, it didn’t match the tone. Dari segala bentuk promosi, sampai tone filmnya sendiri begitu dark. Rasanya tidak cocok saja jika film yang gelap seperti ini ditambah bumbu komedi. Ditambah lagi Tom Cruise yang berusaha ngelawak tapi kesannya malah “krik” banget.


Di bulan Maret 2017 lalu, pernah rilis film “Power Rangers”. Sebuah reboot live action dari serial berjudul sama. Yang somehow, memakai formula film “The Breakfast Club” karya sutradara John Hughes tahun 1985. Mulai dari anak-anak yang punya social clique yang berbeda satu sama lain. Awalnya mereka tidak saling kenal, sampai akhirnya bisa menemukan satu kesamaan dan menjadi satu kekuatan yang padu. Nah, “The Mummy” juga mempunyai formula yang sangat mirip dengan film “Lifeforce”, karya sutradara Tobe Hooper yang juga rilis di tahun 1985. Mulai dari setup nya, cara si villain menangkap mangsa nya, motif si villain, dan ending yang hampir serupa. Wow, serasa jiplak ya? Mungkin bagi yang belum pernah menonton “Lifeforce” tidak akan sadar betapa signifikan kemiripan-kemiripan yang saya sebutkan diatas. Mungkin memang lagi zamannya untuk film-film membuat premis atau formula dari film-film zaman dahulu biar tidak kentara. Ya tapi jangan persis-persis amat dong, kerasa banget ngejiplak nya. Seperti meme berikut ini:


Salah satu faktor yang juga bikin kesal adalah, banyak adegan yang membutakan mata. Lagi adegan gelap-gelapan, tiba tiba flashback tapi terang nya gak nyelo. Seriously, this is annoying af. Silau bener. Gak kontras. Overall, The Mummy is a fun film. Bener-bener action-packed. Kalau kalian suka sama lawakannya, pasti bakal ketawa. Just enjoy the movie. But I couldn’t. Lulz.


Wednesday, May 24, 2017

[Non-Review] 13 REASONS WHY: Killing You Softly



Hey, it’s Hannah. Hannah Baker. Nah, I’m totally kidding. Hannah’s dead. There’s no way she could wrote this whole fucking crap. I decided that this posting isn’t gonna be a review. Since this is not a review, I have more liberty to write this shit as weird as I want. Not that kind of formulaic review with difficult words that the readers don’t even understand what they read and shit, and I hope everyone who reads this can enjoy this post. And hopefully, this post is not boring af. But, if my writing still gets so boring, I’m sorry. There’s no perfect human being in this world. For example, I’m just gonna take some stereotypes here; there’s some guy who’s handsome but poor, and there’s who’s rich but ugly. Nobody’s perfect, right? You can judge me all the way you like. You can leave some hate comments or whatever. You, netizens, aliens, mermaids, drug addicts, or whatever you are, who are reading this right now, are the real critics. You can criticize my writings. I actually look forward for the comments.  Oh yeah, I almost forgot. Fair warning, lots of F word ahead. 


So recently, I’ve watched the most fucked up TV (or Web) Series ever made by a human being: 13 Reasons Why. Actually, there’s even more fucked up TV series rather than this, but so far, this is the craziest one. It doesn’t torture you physically, but mentally and emotionally. I don’t know why this show is so viral. Some people said that this is the most tweeted TV series. Fuck it. Anyway, I told my friend to download this show since I don’t have a good Internet connection. Don’t have enough data package, to be exact. The size is 5 fucking gigabytes. Where the hell can I get 5GB internet data with a cheap price? Hell yeah, I’m broke. Fuck. So my friend downloaded this shit. He watched it first. And he said this is the best TV series he ever watched. He gave 4 out of 5 rating. Haha bitch, Stranger Things is the best TV series I’ve ever watched, for fuck sake. I don’t know. I rarely watch American TV series. I usually watch those Korean Dramas that usually just selling, pfft, romantic comedies and shit. And to be honest, I cried watching those rom-coms shit. Haha, you may say that my taste on TV series are cheesy as fuck, but I can sure you, those Korean Dramas are better than Indonesian TV series. You know why. Except for Makjangs. They deserve to be hated. You don’t know what that means? Google the fucking shit! God damn it. 


Back to “13”, I watched this show in May despite it being released in March. I was 2 months late, but that’s okay. It’s better late than never. I could say that this show is so important for our society. Especially for high-schoolers. I’m so lucky that I’m a fucking sophomore in high school, and this show tells about it. Like, I could relate to it, so much. But there’s some part in it that doesn’t feel neither relatable nor realistic. Maybe because in Indonesia something like that rarely happens. Like, come on, what kind of a high school student who rapes their own friend? That’s so illogical. Maybe that’s because I’m too fucking naïve or anything. In the first few episodes, the kids whose names are on the tape, acted like a bunch of fucking cowards who wanted to silent their friend, Clay, for being too babbly about the tapes. Like, seriously Clay? What took you so fucking long to hear those tapes? Well, at first I hated Clay for being too whiny, snout, and taking too much time just to hear all the 13 tapes. But gradually, I understand why. It was not easy to hear all those tapes. I’m becoming Clay. I’m becoming Amy Adams when she reads the Nocturnal Animals manuscript. Have you guys watched that movie? Nocturnal Animals? Amy Adams’s reaction while reading the manuscript gradually becomes my reaction while watching the show. And also Clay Jensen’s reaction while hearing those tapes. It was depressing. It was dark. It was not supposed to happen to Hannah Baker. What those kids did to Hannah was not okay. But there’s also some point where I thought Hannah just over-reacting with all those things done to her. I don’t know. 


Why first impressions always wrong? Like, you hated it at first, than ended up liking it. Fuck you, 13 Reasons Why. I fucking cried during the end of episode 11 & 13. You got my feelings crushed there. But what’s with the ending? Spoiler alert: Alex got a headshot. From who? There’s no way he shot himself. Alex is a good kid. Unless Tyler shot him. That’ll explain everything. But why? Spoiler ends. One thing I hate about this show is that in the first few episodes, they teased so much about what will happens in the future episodes. Instead of making me curious, it made me furious. What’s the point anyway? Boosting up the ratings? God please. 


But still, like the title of this post: Killing You Softly, it did. You need to watch what you say and what you do. I’m surprised, knowing that one simple mistake caused by your mouth, could make a person lost their lives. Every person has a sensitive part. We don’t know what factor that can trigger that sensitive part. Once you trigger that sensitive part out of a person, you don’t know what they’re going to do. Either they becomes angry, throw a tantrum, gone amok, or worst, kill themselves. Okay, that’s just too much. Too pleonastic, wasn’t it? Before I watched this show, I always thought: why would people prevent other people from committing suicide? It’s their sin, why bother? But after I watched the fucking show, finally I understand why people did that. People needed support. We are social creatures. We rely on communication to stay alive. I don’t know. It’s all just bullshits coming out from my fucking head. I don’t know if they were true, or just fake news #TrumpStyle. Wow, maybe this is the first time I write this long. Well, maybe hasn’t long enough, but it’s quite long. Whatever. I don’t have any final thoughts. So, have you guys watched this show? If you have, what do you guys think about it? Is it good? Or not? Is it important? Or not? Let me know in the comments. If you haven’t watched the show, would you like to watch it? Or not? Let me know in the comments. And even though this is not a fucking review, I still have to rate this show. My rating is….